Jumat, 06 Januari 2017

Ele - The Baby Elephant

Patroli gajah. Selama beberapa hari kedepan, Mimi ibu gajah, dan Ele anak gajah, beserta gajah-gajah lain yang terpilih dan sudah jinak, akan melakukan patroli kepenjuru hutan. Mereka bertugas mengamankan area hutan agar tersosialisasinya keadaan masyarakat setempat.


Sebenarnya Ele masih tidak boleh ikut melakukan patroli. Tapi Ele tidak bisa jauh dari sang ibu. Dia masih membutuhkan susu. Sehingga Ele juga terpilih melakukan patroli gajah bersama ibunya.

Ele terus mengikuti ibunya yang sedang ditumpangi oleh satu panitia patroli gajah. Setiap gajah memiliki satu panitia. Dengan beberapa sector diarea hutan setiap gajahnya. Dan sekarang, mereka sedang menjelajahi area sebelah kanan hutan.

Ele terus berjalan dibelakang sang ibu sambil mengaitkan belalainya pada ekor sang ibu. Dia takut. Ini pertama kalinya dia melakukan patroli.

Ele melepaskan belalainya dari sang ibu. Dia melihat sesuatu yang bergerak dengan lambat dikanan bagian belakang. Seakan sedang menguntit dan takut ketahuan.

Ele segera mendekati sesuatu yang bergerak tersebut. Sampai sesuatu tersebut menampakkan dirinya. Manusia!! Dengan wajah ditutupi kain berwarna hitam membawa kantong jaring-jaring yang menampakkan seekor monyet didalamnya lalu senapang yang berdiri manis di tangan kanannya. Dia bukan panitia, Ele tahu itu. Dia seorang pemburu monyet.

Ele segera menolehkan kepalanya kebelakang untuk memanggil ibunya saat orang itu mengacungkan senapannya kearah Ele, tapi ibunya tidak ada. Kemana ibunya?

Ele segera berlari menjauhi orang tersebut sambil menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri, tapi nihil. Ibunya tidak ada. Ele kemudian mencoba mengeluarkan suara seperti biasa saat dia meminta susu kepada ibunya dengan keras agar ibunya bisa mendengarnya.

Sampai Ele merasakan sesuatu membungkus tubuhnya. Ini jaring-jaring! Ele sempat memberontak namun badannya sudah masuk semua ke jaring-jaring. Ele melihat seseorang yang berbeda disamping orang yang tadi. Temannya.

“Sialan nih Gajah. Untung gak ada orang.” Ucap orang yang membawa senapan.

“Udah, bos. Kita jual aja gajahnya ketempat biasa.” Ucap seseorang yang sedang berusaha mengikat jaring-jaring yang menangkap Ele.

Ele kemudia ditarik kearah paling kanan hutan. Bukankah tidak ada jalan keluar disebelah sana? Ele terus berusaha memberontak saat merasakan punggungnya sakit karena menggesek tanah dengan keras. Ele juga berusaha mengeraskan suaranya agar ibunya bisa mendengarnya.

Sekarang mereka sudah sampai dibagian kanan hutan. Tidak ada pepohonan, hanya ada tanah luas dengan pagar beton kokoh yang tinggi mengelilingi setiap sudutnya. Ele terus ditarik kearah pagar. Sampai dia melihat ada sebuah lubang besar dibawah beton yang menembus kearah luar dengan beton bagian bawah yang sudah dihancurkan.

Ele mendengar sebuah suara yang sangat dikenalinya dari jauh. Suara ibunya! Ele terus berusaha memberatkan badannya agar orang itu bisa melepaskan Ele. Ele ingin bertemu ibunya.

Lalu tanpa dilihat oleh orang yang menggeret Ele, sang ibu dengan cepat datang lalu mendorong orang tadi dengan kepalanya. Sang ibu lalu mencoba melepaskan ikatan tali pada jaring-jaring yang membungkus Ele.

Tanpa Ele dan sang ibu sadari, disana masih ada satu orang lagi. Berdiri didekat jalan keluar sambil mengacungkan senapannya kearah Mimi.

DOR

Semuanya terasa begitu cepat. Ele yang sedang berusaha keluar dengan bantuan ibunya, tiba-tiba tubuh sang ibu ambruk keatasnya. Darah bercucuran dari kaki kanan belakang ibunya. Ele menangis. Ibunya kenapa?

Ele masih terus menangis sambil menggoyang goyangkan badan sang ibu menggunakan belalainya yang pendek. Dia tidak melihat keadaan sekitar. Bahkan, Ele tidak melihat bahwa senapan menjurus tepat dikepalanya. Dan..

DOR

Sebuah peluru tepat menusuk ketangannya. Ketangan orang itu. Ternyata ibunya membawa panitia yang bertugas dengannya juga gajah dan panitia yang lain.

Tapi orang tadi tidak jera. Dia terus berusaha melewati lubang besar dibawahnya sambil tetap membawa jaring-jaring monyet. Padahal, tangan kanannya sudah tertembak.

Beberapa panitia mengejar orang yang membawa monyet dan menangkap orang yang tadi didorong ibunya. Sedangkan beberapa gajah dan panitia lain mencoba membantu Ele membebaskan diri dan mencoba mengangkat ibu Ele.

Ele terus saja mengaitkan belalainya di ekor sang ibu walaupun sang ibu sedang tertatih sambil dipapah dua gajah di sebelah kanan dan kiri. Tetap menangis walaupun sudah ditenangkan panitia paling favoritenya.


Ele berjanji didalam hatinya, suatu saat nanti, dia akan menggantikan ibunya untuk patroli gajah. Dia akan menjaga kawasannya dari orang-orang pemburu. Dia akan menjaga kawanan monyet dan spesies lainnya agar tidak mati. Dia ingin melindungi miliknya, seperti sang ibu yang melindunginya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar