Patroli
gajah. Selama beberapa hari kedepan, Mimi ─ibu gajah, dan Ele ─anak gajah,
beserta gajah-gajah lain yang terpilih dan sudah jinak, akan melakukan patroli
kepenjuru hutan. Mereka bertugas mengamankan area hutan agar tersosialisasinya
keadaan masyarakat setempat.
Sebenarnya
Ele masih tidak boleh ikut melakukan patroli. Tapi Ele tidak bisa jauh dari
sang ibu. Dia masih membutuhkan susu. Sehingga Ele juga terpilih melakukan
patroli gajah bersama ibunya.
Ele
terus mengikuti ibunya yang sedang ditumpangi oleh satu panitia patroli gajah.
Setiap gajah memiliki satu panitia. Dengan beberapa sector diarea hutan setiap
gajahnya. Dan sekarang, mereka sedang menjelajahi area sebelah kanan hutan.
Ele
terus berjalan dibelakang sang ibu sambil mengaitkan belalainya pada ekor sang
ibu. Dia takut. Ini pertama kalinya dia melakukan patroli.
Ele
melepaskan belalainya dari sang ibu. Dia melihat sesuatu yang bergerak dengan
lambat dikanan bagian belakang. Seakan sedang menguntit dan takut ketahuan.
Ele
segera mendekati sesuatu yang bergerak tersebut. Sampai sesuatu tersebut
menampakkan dirinya. Manusia!! Dengan wajah ditutupi kain berwarna hitam
membawa kantong jaring-jaring yang menampakkan seekor monyet didalamnya lalu
senapang yang berdiri manis di tangan kanannya. Dia bukan panitia, Ele tahu
itu. Dia seorang pemburu monyet.
Ele
segera menolehkan kepalanya kebelakang untuk memanggil ibunya saat orang itu
mengacungkan senapannya kearah Ele, tapi ibunya tidak ada. Kemana ibunya?
Ele
segera berlari menjauhi orang tersebut sambil menolehkan kepalanya kekanan dan
kekiri, tapi nihil. Ibunya tidak ada. Ele kemudian mencoba mengeluarkan suara
seperti biasa saat dia meminta susu kepada ibunya dengan keras agar ibunya bisa
mendengarnya.
Sampai
Ele merasakan sesuatu membungkus tubuhnya. Ini jaring-jaring! Ele sempat
memberontak namun badannya sudah masuk semua ke jaring-jaring. Ele melihat
seseorang yang berbeda disamping orang yang tadi. Temannya.
“Sialan
nih Gajah. Untung gak ada orang.” Ucap orang yang membawa senapan.
“Udah,
bos. Kita jual aja gajahnya ketempat biasa.” Ucap seseorang yang sedang
berusaha mengikat jaring-jaring yang menangkap Ele.
Ele
kemudia ditarik kearah paling kanan hutan. Bukankah tidak ada jalan keluar
disebelah sana? Ele terus berusaha memberontak saat merasakan punggungnya sakit
karena menggesek tanah dengan keras. Ele juga berusaha mengeraskan suaranya
agar ibunya bisa mendengarnya.
Sekarang
mereka sudah sampai dibagian kanan hutan. Tidak ada pepohonan, hanya ada tanah
luas dengan pagar beton kokoh yang tinggi mengelilingi setiap sudutnya. Ele
terus ditarik kearah pagar. Sampai dia melihat ada sebuah lubang besar dibawah
beton yang menembus kearah luar dengan beton bagian bawah yang sudah
dihancurkan.
Ele
mendengar sebuah suara yang sangat dikenalinya dari jauh. Suara ibunya! Ele
terus berusaha memberatkan badannya agar orang itu bisa melepaskan Ele. Ele
ingin bertemu ibunya.
Lalu
tanpa dilihat oleh orang yang menggeret Ele, sang ibu dengan cepat datang lalu
mendorong orang tadi dengan kepalanya. Sang ibu lalu mencoba melepaskan ikatan
tali pada jaring-jaring yang membungkus Ele.
Tanpa
Ele dan sang ibu sadari, disana masih ada satu orang lagi. Berdiri didekat
jalan keluar sambil mengacungkan senapannya kearah Mimi.
DOR
Semuanya
terasa begitu cepat. Ele yang sedang berusaha keluar dengan bantuan ibunya,
tiba-tiba tubuh sang ibu ambruk keatasnya. Darah bercucuran dari kaki kanan
belakang ibunya. Ele menangis. Ibunya kenapa?
Ele
masih terus menangis sambil menggoyang goyangkan badan sang ibu menggunakan
belalainya yang pendek. Dia tidak melihat keadaan sekitar. Bahkan, Ele tidak
melihat bahwa senapan menjurus tepat dikepalanya. Dan..
DOR
Sebuah
peluru tepat menusuk ketangannya. Ketangan orang itu. Ternyata ibunya membawa
panitia yang bertugas dengannya juga gajah dan panitia yang lain.
Tapi
orang tadi tidak jera. Dia terus berusaha melewati lubang besar dibawahnya
sambil tetap membawa jaring-jaring monyet. Padahal, tangan kanannya sudah
tertembak.
Beberapa
panitia mengejar orang yang membawa monyet dan menangkap orang yang tadi
didorong ibunya. Sedangkan beberapa gajah dan panitia lain mencoba membantu Ele
membebaskan diri dan mencoba mengangkat ibu Ele.
Ele
terus saja mengaitkan belalainya di ekor sang ibu walaupun sang ibu sedang tertatih
sambil dipapah dua gajah di sebelah kanan dan kiri. Tetap menangis walaupun
sudah ditenangkan panitia paling favoritenya.
Ele
berjanji didalam hatinya, suatu saat nanti, dia akan menggantikan ibunya untuk
patroli gajah. Dia akan menjaga kawasannya dari orang-orang pemburu. Dia akan
menjaga kawanan monyet dan spesies lainnya agar tidak mati. Dia ingin
melindungi miliknya, seperti sang ibu yang melindunginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar